Jumat, 11 September 2015 - Paroki St. Aloysius Gonzaga, Surabaya
Tahun 2013

1 Tim 1:1-2.12-14 | Mzm 16:1-2a.5.7-8.11 | Luk 6:39-42

Mungkinkah seorang buta membimbing orang buta?

Pada suatu ketika Yesus menyampaikan perumpamaan ini kepada murid-muridNya, "Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lobang? Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, tetapi barangsiapa yang telah tamat pelajarannya akan sama dengan gurunya. Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Saudara, biarlah aku mengeluarkan selumbar yang ada di dalam matamu, padahal balok yang di dalam matamu tidak engkau lihat? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu."

---ooOoo---

Dalam satu rekoleksi keluarga, di mana pesertanya adalah gabungan orang tua dan anak-anak, saya mewawancarai seorang anak perihal relasinya dengan orang tua. Dia mengatakan lebih senang dengan ibu daripada ayah, karena ia pernah ditampar ayahnya di hadapan teman-temannya karena mabuk. Ia memang mengaku bersalah dan berjanji tidak mengulangi lagi, tetapi ketika ayahnya pergi ia mengulangi lagi perbuatan tersebut. Hal ini membuat ayahnya bingung mencari cara mendidiknya. Ketika diberi kesempatan untuk berbicara, dengan terus terang ia berkata, bahwa ia tak mau mendengar nasehat ayahnya. "Ayah juga suka mabuk-mabukan dan memukul ibu serta kami anak-anak,"katanya memberi alasan.

Yesus mengajarkan, bahwa seorang buta tak bisa menuntun orang buta. Yang menjadi penuntun haruslah memiliki kelebihan sehingga dapat membimbing orang lain menuju jalan yang benar. "Keluarkan dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu", kata Yesus (Luk 6:42b). Yesus lebih menghargai teladan daripada kata-kata hampa. Bahwa kesaksian hidup justru berbicara lebih keras daripada kata-kata indah tapi hampa.

Keteladanan kadangkala sulit kita wujudkan. Namun Yesus mengingatkan kita, bahwa kita dapat menjadi cermin yang benar bagi orang lain, agar mereka dapat melihat sesuatu yang baik dalam hidup kita dan terdorong untuk membaharui diri. Jika hidup kita sendiri tidak benar, maka mustahil kita dapat memberikan teladan kepada orang lain. Dalam kebersamaan kita hendaknya saling memberi contoh hidup yang baik, agar kita saling menuntun pada jalan kebenaran. Kita diutus Tuhan menjadi penuntun orang-orang di sekitar kita. Kita perlu yakin akan tanggung jawab ini dan berpikir untuk melakukan yang benar di mata Tuhan dan sesama. (thk)

  1. Nilai hidup apa yang patut anda berikan kepada orang lain?
  2. Bentuk kebutaan macam mana yang harus saya obati dalam hidup?

Disalin dari buku Berjalan Bersama SANG SABDA, Refleksi Harian Kitab Suci 2015 - Provinsi SVD Jawa

Pengunjung

We have 16 guests and no members online