Senin, 2 November 2015 - Paroki St. Aloysius Gonzaga, Surabaya
Renungan Harian

2 Mak 12:43-46 | Mzm 130:1-8 | 1 Kor 15:20-24a.25-28 | Yoh 6:37-40

Setiap orang yang percaya kepada Anak Allah beroleh hidup yang kekal, dan Tuhan akan membangkitkannya pada akhir zaman.

Dalam rumah ibadat di Kapernaum Yesus berkata kepada orang banyak, "Semua yang diberikan Bapa kepadaKu akan datang kepadaKu, dan barangsiapa datang kepadaKu, ia tidak akan Kubuang. Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendakKu, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku. Dan Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikanNya kepadaKu jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman. Sebab inilah kehendak BapaKu, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepadaNya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman."

---ooOoo---

Melati di makam. Beberapa kali berkunjung ke kota Surabaya, saya menyempatkan diri mengunjungi makam para misionaris di kompleks Pemakaman Kristen Kembang Kuning. Sekali waktu aku berkunjung ke makam seorang rekan misionaris yang telah berpulang. Kulihat sekuntum melati muncul dari pokok yang kutanam di atas makamnya itu beberapa bulan sebelumnya. Pemandangan sederhana ini seperti menyinarkan harapan, bahwa di tempat ini bukan hanya ada aura kematian tetapi juuga ada harapan untuk kehidupan. Dalam konteks iman Kristiani, harapan tersebut berujung pada persatuan sempurna dengan Sang Penyelamat, Yesus Kristus.

Hari ini Gereja memperingati arwah semua orang beriman. Kita didorong untuk berdoa bagi jiwa-jiwa kaum beriman, teristimewa yang meninggal tanpa sempat bertobat dari dosa-dosanya. Tradisi unik ini merujuk ke tindakan Yudas Makabeus yang mempersembahkan kurban penghapusan dosa bagi anak buahnya yang gugur dalam pertempuran (2 Mak 12:43-44). Dasar semua ini adalah iman akan kebangkitan. Tindakan Yudas sudah tepat dan menuai penghargaan dari para pengikutnya.

Perayaan hari ini dengan intensi mendoakan arwah semua orang beriman sebetulnya merupakan resonansi langsung dari tindakan terpuji Yudas di atas. Dengan ide dasar yang sama, kita terus berharap pada Yesus, Sang Kebangkitan dan Kehidupan yang membuka jalan menuju kemuliaan. Maka, praktek mendoakan orang yang sudah meninggal tidak saja berguna bagi jiwa orang-orang tersebut, tetapi juga mengingatkan kita akan kebangkitan yang menjadi tujuan akhir hidup kita. Meraih kebangkitan inilah yang menjadi alasan mengapa kita beriman. Mari mendoakan mereka yang sudah meninggal. Kita juga meminta mereka mendoakan kita, karena kita semua berhimpun di seputar Kristus yang sama. Dia Tuhan atas semua orang yang percaya kepadaNya. (ap)

  1. Percayakah anda, bahwa doa bisa menyelamatkan arwah yang tak sempat bertobat?
  2. Sejauh mana anda menemukan ide ini hidup di dalam komunitas anda?

Disalin dari buku Berjalan Bersama SANG SABDA, Refleksi Harian Kitab Suci 2015 - Provinsi SVD Jawa

Pengunjung

We have 11 guests and no members online