Selasa, 2 Juni 2015 - Paroki St. Aloysius Gonzaga, Surabaya
Katekese

Tb 2:10-23 | Mzm 112:1-2.7bc-8.9 | Mrk 12:13-17

Berikanlah kepada kaisar apa yang menjadi hak kaisar dan kepada Allah apa yang menjadi hak Allah.

Pada waktu itu beberapa orang Farisi dan Herodian disuruh menghadap Yesus, untuk menjerat Dia dengan suatu pertanyaan. Orang-orang itu datang dan berkata kepadaNya: "Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur, dan Engkau tidak takut kepada siapapun juga, sebab Engkau tidak mencari muka, melainkan dengan jujur mengajar jalan Allah dengan segala kejujuran. Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak? Haruskah kami bayar atau tidak?" Tetapi Yesus mengetahui kemunafikan mereka, lalu berkata kepada mereka: "Mengapa kamu mencobai Aku? Bawalah ke mari suatu dinar supaya Kulihat!" Lalu mereka bawa. Maka Ia bertanya kepada mereka: "Gambar dan tulisan siapakah ini?" Jawab mereka: "Gambar dan tulisan Kaisar." Lalu kata Yesus kepada mereka: "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!" Mereka sangat heran mendengar Dia.

---ooOoo---

Tangan kaisar praktis masuk ke dalam seluruh aspek kehidupan orang-orang, baik sebagai individu maupun sebagai kelompok masyarakat. Apalagi bangsa taklukan seperti Israel. Ibaratnya mata, telinga, tangan dan kaki kaisar itu bisa masuk ke kamar tidur seseorang. di mana-mana ada pegawai kaisar, tentara, mata-mata dan para kolaboratornya seperti pegawai pajak. Semua ini melayani satu kepentingan, yakni kemakmuran kekaisaran Romawi. Membayar pajak itu jelas bukan dari kehendak bebas, tetapi sebuah kewajiban karena realitas politik yang tak terhindarkan. Yesus memanfaatkan pertanyaan itu untuk mengajar umat beriman tentang kewajiban kepada Allah. Jika kepada kaisar saja orng begitu taat, mengapa kepada Allah orang tidak taat?

Di sejumlah paroki yang pernah saya layani, saya bertemu dengan beberapa katekis yang sangat tinggi dedikasinya. Padahal honor mereka tidak seberapa, bahkan masih di bawah garis kehidupan layak. Namun, ketika mereka menjadi pegawai negeri, dedikasinya itu merosot, padahal pola kerjanya tetap sama sementara tunjangan negara lebih tinggi. Ternyata loyalitas mereka bergeser. Walaupun tetap berkarya di bidang yang sama, praktis "tuannya" sudah berbeda, karena yang menjamin ekonominya bukan lagi keuskupan atau paroki melainkan negara melalui pemerintah.

Fakta hidup seperti ini perlu direnungkan dan ditanggapi secara dewasa, agar kita tidak sampai menggadaikan iman. Iman tak bisa diatur menurut hukum sipil, karena itu setiap pelanggaran hanya mengakibatkan sanksi moral. Maka sangat penting kesadaran pribadi, agar di samping mengabdi negara, kita tak mengabaikan Tuhan, pemberi hidup. (ap)

  1. Menurut anda, bisakan anda mendamaikan kewajiban kepada Tuhan dan kepada negara?
  2. Apa konflik yang anda hadapi? Bagaimana jalan keluarnya?

Disalin dari buku Berjalan Bersama SANG SABDA, Refleksi Harian Kitab Suci 2015 - Provinsi SVD Jawa

Pengunjung

We have 13 guests and no members online